FORCEP RIO

Wednesday, February 03, 2010

Tempayan Retak

Suatu ketika ada seorang tukang panggul air berasal dari India sedang memanggul dua tempayan. Ia memilki dua tempayan besar, dan masing-masing tempayan bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu ada yang retak, sedangkan yang satunya lagi tidak.

Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya. Namun lain hal dengan tempayan yang retak hanya dapat membawa air setengah penuh saja. Hal ini ini terjadi setiap hari ia melakukan tugas itu selama dua tahun.

Si tukang panggul air itu hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Begitu setiap harinya. Lain hal dengan tempayan yang tidak retak ia merasa bangga akan prestasinya itu. Bisa membawa air setempayan penuh dan melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaan dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat ia berikan.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit itu, tempayan yang retak itu berkata kepada si tukang panggul air,” aku sungguh malu pada diriku sendiri dan aku ingin mohon maaf kepadamu.”
Kenapa?” tanya si tukang panggul air. ”Kenapa kamu harus merasa malu?”
Aku hanya mampu selama dua tahun ini hanya membawa setengah porsi air dari seharusnya yang kau dapati. Dan karena adanya retakan pada bagianku telah membuat air yang aku bawa bocor sepanjang jalan menuju majikan rumahmu.”
Karna cacatku itu, aku telah membuatmu rugi.” Kata temapyan retak itu lagi.
Si tukang panggul air merasa iba dan juga merasa kasihan pada tempayan retak itu dan dalam belas kasihan si tukang panggul air itu berkata lagi,” jika kita kembali ke rumah majikanku besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah sepanjang jalan.”

Benar, ketika si tukang panggul air itu akan naik bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya terhibur. Namun pada akhir perjalanan, si tempayan retak itu kembali meratapi dirinya (menangis) karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan ia pun kembali meminta maaf lagi pada si tukang panggul air itu atas kegagalannya.

Si tukang panggul air berkata kepada tempayan retak itu,” apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga disepanjang jalan di sisi tempayan yang llin yang tidak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu
Dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja maijikankanku. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada majikanku takkan dapat menghias. Rumahnya seindah sekaerang.”

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau Tuhan akan menggunakan kekuranngan kita untuk menghias-Nya. Dimata Tuhan yang bijakansana tak ada yang terbuang secara percuma. Jangan takut dengan kelemahanmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.
Ketahuilah didalam kelemahn kita , kita akan menemukan kekuatan kita.”

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]



<< Home